Minggu, 30 Juli 2017
Rindu dengan tempat ini. Rindu dengan suasana gerimis dan awan mendungnya yang menyapa di pagi hari. Ini adalah pagi hari pertama aku terbangun di tempat ini. Hari dimana jam berjalan begitu cepat. Dan tak ku sangka hari ini juga lah yang selalu terngiang di benak ku hingga saat ini. Kenangan yang tertinggal di tempat ini seolah selalu menyapa untuk mengingatkan aku akan seseorang yang sudah tiada. Seseorang itu adalah salah satu lelaki yang sangat mencintai aku di dunia ini. Lelaki itu adalah ayah ku yang sudah tidak di dunia ini lagi.
Sembalun bumbung berada di kaki gunung rinjani yang menjadi tempat terakhir yang aku kunjungi bersama ayah ku. Aku tidak tahu kalau itu akan menjadi kunjungan pertama dan terakhir yang kami lakukan bersama. Menyesal rasanya tidak pernah pergi bersama beliau dan lebih memilih pergi bersama teman teman.
Sudah satu tahun berlalu dan rasanya semua baru terjadi hari ini. Masih sangat sulit melupakan bahwa ayah sudah pergi. Menulis adalah salah satu hal yang bisa aku lakukan untuk meringankan beban ini. Bukan aku tidak ikhlas hanya saja bayangan rasa bersalah dan penyesalan terus datang menghampiri hampir setiap malam. Semua bayangan dan rasa itu membuat aku sangat hancur dan terluka karena belum mampu membuat ayah ku bahagia.
Malam ini rasa ini muncul dan merasuk lebih dalam dan semakin terasa perih. Aku merasa tidak berguna menjadi seorang anak. Aku merasa tidak berguna karena salah satu orang yang aku dan ayah ku cintai yaitu ibu ku mengalami kesulitan setelah kepergian ayah ku. Dan aku sebagai anak belum mampu membahagiakan dan meringakan beban ibu ku.
Hati ini terasa perih dan terirish melihat ibu merasa lelah dan lapar di masa tuanya. Aku tau bahwa hingga saat ini ibu selalu merasa segalanya lebih berat tanpa bantuan ayah. Tapi aku tidak mampu berbuat apapun. Sakit rasanya melihat ibu membanting tulang di usinya yang renta seperti saat ini. Namun apadaya untuk saat ini aku masih belum mampu meringankan beban itu. Aku belum mampu menghilangkan peluh di dahi ibu ku.
Maaf kan aku ayah yang tidak mampu menjaga ibu dan belum mampu membuat dia sekedar hidup nyaman tanpa peluh. Aku berjanji akan terus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga dan membuat sedikit senyum di wajahnya.
Maafkan anak mu ini ibu belum mampu membuat mu bahagia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar